Media Sosial, Buku, dan Literasi Informasi
Oleh: Derry Nodyanto Guru SMA Negeri 1 Pemali
Media sosial mengajarkan berselancar di permukaan, sedangkan buku menyelam dalam kedalaman" (Zubaedi) SEBUAH kalimat sederhana tanpa bermaksud mengerdilkan substansi informasi yang diperoleh dari media sosial. Lebih tepat lagi pemikiran lugas namun sarat makna yang bermaksud memberikan refleksi mendalam bagaimana kita menyikapi perkembangan teknologi yang begitu pesat saat ini. Perkembangan teknologi yang begitu cepat dan didukung pula kemudahan akses internet menjadikan navigasi penggunaan media sosial makin menggeliat. Di sisi lain, secara perlahan buku seolah-olah termarginalkan dengan kemunculan media baru bernama media sosial. Media sosial maupun buku memiliki peran tersendiri dalam memenuhi kebutuhan informatif dan komunikatif bagi masyarakat yang beragam. Ada yang rela menghabiskan waktu menikmati media sosial di layar ponsel dengan durasi waktu yang lama daripada sekadar membaca buku meskipun hanya satu lembar. Begitu pun sebaliknya, ada yang menekuni diri sebagai penikmat buku (fiksi/nonfiksi) sebagai asupan pengetahuan. Semua itu patut dipahami bahwa segmentasi yang berbeda menjadikan tujuan dan karakter berbeda pula. Lebih lanjut tulisan ini memfokuskan penekanan pada pemanfaatan media sosial itu sendiri yang dianggap jauh lebih penting menjadi titik perhatian. Mengapa penting menjadi titik perhatian? Mengingat penetrasi internet dan media sosial yang makin menggeliat, maka makin memudahkan kita pula dalam memperoleh informasi dari mana saja dan kapan saja. Akan tetapi, patut kita ketahui bahwa informasi yang diperoleh dari media sosial sesungguhnya bebas nilai. Dalam artian memberi nilai melalui media sosial itu sendiri dan melalui tafsiran tersendiri pula. Dengan begitu, doktrin pembenaran cenderung dilakukan secara sepihak dan berdasarkan versi sendiri. Hal inilah sesungguhnya menjadi kekhawatiran dalam ruang lingkup keberagaman. Tak elok apabila informasi berbelok. Tak nyaman sebab kita berada di tengah perbedaan. Dapat memperkeruh keadaan, meruntuhkan sendi-sendi persatuan dan kesatuan. Mengapa begitu? Karena setiap informasi yang disebarluaskan melalui media sosial dan elektronik ketika telah terkirim dan dibaca oleh banyak orang dapat memengaruhi emosi, perasaan, pikiran, bahkan tindakan. Kondisi inilah yang tak jarang menjadi pemantik kegaduhan antarsesama. Ujaran kebencian dan menyebarkan berita kebohongan menjadi pemicu rusuh karena termakan isu. Celakanya lagi, mendiskreditkan kelompok lain/kelompok tertentu demi kepentingan tertentu. Hal inilah lalu mengakibatkan stigma negatif yang menjelma menjadi mindset. Dan mindset tersebut melibas siapa pun tanpa ampun bagi yang tak mengisi isi kepala dengan ilmu pengetahuan. Sesungguhnya tidak ada yang salah dalam penggunaan media sosial. Dalam batas kewajaran, sah-sah saja tergantung selera. Namun, bijak dalam penggunaan dan pemanfaatan media sosial merupakan keharusan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Secara konstitusional, bangsa ini telah menghadirkan nilai instrumental tentang kebebasan berpendapat. Namun, bukan kebebasan kebablasan yang menanggalkan nilai keadaban sebagai bangsa yang bermartabat. Lantas, yang menjadi pertanyaan dan refleksi ialah apakah pemanfaatan media sosial sudah pada tataran ideal? Pemanfaatan yang tepat tidak menimbulkan mudarat. Menghadirkan sajian informasi menginspirasi bukan penajaman polarisasi. Mengedukasi bukan memprovokasi. Tak kalah penting mengedepankan fakta bukan prasangka apalagi memanipulasi data. Poin penting itu merupakan kebutuhan mutlak yang diperlukan mengingat dinamika dan karakteristik bangsa kita yang majemuk. Kita tentu tidak menginginkan pribadi-pribadi dangkal pengetahuan dan tunaetika yang menjadi label kehidupan pribadi dan sosialnya. Kita juga tidak mengharapkan generasi tumbuh berkembang yang jauh dari nilai-nilai luhur keadaban yang bersumber dari Pancasila. Untuk itu, literasi informasi menjadi asupan penting yang patut ditekankan kepada semua komponen bangsa, khususnya generasi muda untuk membiasakan mencari, memahami, dan mengelola serta mengevaluasi informasi menjadi nilai pengetahuan yang bermanfaat baik untuk diri pribadi maupun orang lain. Membiasakan diri untuk membekali diri dengan informasi benar dan jalan yang benar pula. Tak kalah penting menancapkan kemajuan berpikir yang dilandasi ikhtiar untuk meningkatkan kualitas diri dan juga mempertahankan harmoni dalam kehidupan. Oleh karena itu, tepatlah ungkapan yang menyebutkan "Anda adalah apa yang Anda baca". Dan salah satu aksi nyata yang dapat dilakukan ialah dengan membiasakan membaca buku. Sebagaimana diungkapkan Barbara Tuchman bahwa "buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, pemikiran macet. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancangkan di samudra waktu". Sudahkah Anda membaca buku hari ini sebagai bekal untuk melangkah?
